Senin, 14 November 2011

STATE THE DEVIL


STATE THE DEVIL

            Created  ELLIAN GADMAN (L)
          Negara yang katanya sudah merdeka,
Negara yang katanya sudah mempunyai.Pedoman sebagai pegangan rakyatnya.
Ironisnya semuanya hanya dalam ucapan dan hanya dalam catatan di atas kertas,yang akan tenggelam dalam sebuah sejarah tanpa arti sesungguhnya.
          Perjuangan para pahlawan yang telah gugur,
Hanya sekedar dongeng yang di ceritakan di kelas dan membuat ngantuk para pendengarnya,yah seperti para penguasa dalam rapat.
          Para penguasa state of the devil hanya berpikir untuk diri sendiri tanpa memikirkan rakyatnya,sex and money only any in head. Menggelapkan uang dan seks.

‘’WHAT THE FUCK YOUR ASSHOLE’’
‘’SHIT THIS STATE’’
FUCK FUCK FUCK
The last name,L change the world



OSAKA

Osaka kota yang dipenuhi sepeda dan pejalan kaki

Sepeda memang pernah popular pada masa ayah dan ibu saya masih muda. Seiring pertumbuhan ekonomi nasional, masyarakat kita telah mulai mengenal sepeda motor sebagai alat transportasi pilihan lainnya. Maka secara perlahan namun pasti sepeda motor telah menjadi alat transportasi yang paling popular di negara kita ini.
Lihat saja saat ini toko yang menjual perlengkapan sepeda jumlahnya kian berkurang.  omset penjualannya pun menurun dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Demikian juga keberadaan bengkel perawatan sepeda, sebagai ilustrasi ketika ban sepeda anak saya kempes, repot sekali istri saya mencari tempat servis ‘penambalan’ ban sepeda anak saya itu.
Daya jelajah sepeda memang tidaklah terlalu jauh. Sepeda digunakan oleh para pekerja setelah turun dari stasiun kereta, bis atau kereta bawah tanah. Kemudian dari stasiun yang ada di tengah kota mereka titipkan sepedanya di sana. Lalu saat mereka ingin bekerja, sepeda itu baru kembali mereka gunakan.
Selain pilihan bersepeda, gaya hidup lain dari masyarakat Jepang adalah terbiasa rinci dalam menghitung segala kemungkinan yang akan terjadi ketika menyusun rencana untuk bepergian


Tempat yang nyaman bagi orang yang bersepeda dan pejalan kaki

Masyarakat Jepang pun tidak menyukai cara hidup yang santai termasuk ketika berjalan. Jalan mereka sangat cepat. Banyak seorang lelaki mengenakan jas dan dasi, atau perempuan dengan sepatu berhak tinggi harus berlari di stasiun kereta bawah tanah.untuk mengejar jadwal kereta agar dia tidak terlambat. Untuk mengefektifkan waktu di perjalanan, tak jarang terlihat mereka (laki-laki atau perempuan) menyantap makan siang atau malam (biasanya roti) di atas kereta bawah tanah yang sedang melaju.
Hal lain yang sangat jarang di temui di Jepang adalah ‘ngerumpi atau ngobrol ngalor-ngidul di atas angkutan umum. Jadi ada kemungkinan begitu memasuki kereta bawah tanah atau bis, bisa saja mereka – pekerja bahkan  pelajar Jepang sudah menganggap berada pada area kerja atau tempat belajar, namun sungguh ini hanya sebuah analisis yang bersifat prematur dari saya saja. Tapi sungguh, mereka tidak suka ngerumpi. Lantas bagaimana dengan masyarakat Osaka yang saya lihat gemar berjalan kaki atau bersepeda?
•    Kemungkinan pertama jalur jalan untuk orang bersepeda atau bagi pejalan kaki telah dibuat khusus, berupa pendistrian jalan  yang  dibuat lebar, nyaman dan nyaman.
•    Kemungkinan kedua, karena setelah selesai bersepeda mereka langsung dapat bertemu dengan angkutan umum yang juga nyaman serta efektif dalam pencapaian ke tempat kerja mereka di tengah kota atau di pinggiran kota.
•    Kemungkinan ketiga masyarakat Osaka telah benar-benar memahami serta menerapkan dengan serius gaya hidup yang bersahabat dengan lingkungan. Kemungkinan keempat, sebagian besar masyarakat Osaka telah benar-benar memahami konsep bersepeda serta berjalan kaki sangat baik bagi kesehatan dan kebugaran.

Kota tempat  ‘orang tua’ yang  masih terlihat  bugar dan  segar

Jika kita berjalan di Osaka maka akan sering
bertemu dengan orang-orang tua yang masih terlihat segar dan bugar. Mereka  berjalan dengan sangat cepat atau mengayuh sepeda dengan mimik yang jauh dari rasa lelah. Bisa jadi hal ini adalah efek dari gaya hidup yang saya ungkapkan tadi di atas.
Di Osaka orang-orang tua terlihat sangat mandiri, berjalan, bersepeda, di stasiun kereta, di stasiun bis, di stasiun sub way atau di taman-taman  kota, mereka masih terlihat sigap berjalan, berurusan atau pun hanya melihat-lihat taman saja. Tentunya ini adalah gambaran bahwa usia harapan hidup masyarakat jepang tergolong tinggi. Index usia harapan hidup sesungguhnya berkaitan dengan  gambaran dari tingkat kesejahteraan  masyarakat di suatu tempat. Akan tetapi perlu pula diketahui mereka mencapai hal tersebut tidak melalui gaya hidup yang berleha-leha, atau ber suka-suka semata. Masyarakat Jepang meraih semua itu dengan semangat hidup dan gerak atau implementasi yang luar biasa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar